Pendidikan Nasional: Antara Cita-cita Generasi Emas dan Realitas Generasi Cemas
Pendidikan Nasional: Antara Cita-cita Generasi Emas dan Realitas Generasi Cemas
Oleh: Dr. Risman Muchtar, M.Si.
Pendahuluan
….. یَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمۡ وَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتࣲۚ …..
> “Sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu di antara kamu”
[Surat Al-Mujadilah: 11]
Indonesia menyongsong visi besar “Generasi Emas 2045”, sebuah proyek nasional yang berambisi menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan berdaya saing global. Pendidikan ditetapkan sebagai pilar utama untuk mewujudkan visi tersebut. Namun, pertanyaan fundamental perlu diajukan: mampukah sistem pendidikan nasional yang masih berwatak sekuler dan terjebak dalam dikotomi ilmu, serta dikelilingi oleh ekosistem korup dan permisif, benar-benar melahirkan generasi emas? Ataukah justru kita sedang mencetak generasi cemas—yang cerdas namun kehilangan arah, terampil namun rapuh secara moral dan spiritual?
Pendidikan Sekuler dan Lahirnya Generasi Cemas
Konsep pendidikan nasional yang berlaku hingga hari ini masih terjebak pada pendekatan sekuler, yakni pemisahan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keimanan dan akhlak. Ilmu pengetahuan dipelajari sebagai objek netral, tanpa orientasi moral dan spiritual. Agama disingkirkan ke sudut kurikulum sebagai pelengkap, bukan sebagai landasan etik dan tujuan hakiki dari pendidikan.
Akibatnya, meskipun Indonesia melahirkan banyak lulusan berprestasi secara akademik, krisis karakter justru semakin parah. Korupsi merajalela, narkoba menggerogoti remaja, pornografi dan pergaulan bebas menjadi hal lumrah di media dan kehidupan sosial. Inilah potret generasi cemas: gelisah, kehilangan makna hidup, dan hidup dalam tekanan tanpa pegangan nilai yang kuat.
Ekosistem Pendidikan yang Rusak
Ekosistem pendidikan nasional tidak hidup di ruang hampa. Ia beroperasi dalam atmosfer sosial-politik yang ditandai oleh:
1. Maraknya korupsi, bahkan di sektor pendidikan sendiri;
2. Pemberantasan narkoba yang setengah hati dan lebih bersifat seremonial;
3. Masyarakat yang permisif terhadap kemaksiatan, bahkan dalam beberapa kasus, budaya populer justru mendukung gaya hidup bebas dan konsumtif.
Bagaimana mungkin generasi emas lahir dari sistem yang dikelola oleh para koruptor, dengan fasilitas yang tidak merata, guru yang tidak sejahtera, dan media yang membentuk opini publik tanpa tanggung jawab moral?
Konsep Pendidikan Nasional yang Ideal
Untuk benar-benar mencetak generasi emas, Indonesia memerlukan rekonstruksi mendasar terhadap filosofi pendidikan nasional. Pendidikan harus kembali pada prinsip holistik dan integratif: menggabungkan IMTAQ (Iman dan Taqwa) dengan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) secara menyeluruh, tidak parsial dan simbolik. Konsep pendidikan Islam klasik tentang insan kamil harus diberi ruang dalam diskursus nasional.
Pendidikan tidak hanya untuk mencetak tenaga kerja, tetapi untuk membentuk manusia seutuhnya: beriman, berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi bangsa dan umat manusia.
Ekosistem Pendidikan yang Harus Dibangun
1. Keteladanan Moral dari Atas: Perubahan dimulai dari elite: pemimpin yang jujur, pejabat yang bersih, guru yang menjadi panutan.
2. Gerakan Literasi Spiritual dan Moral : Kurikulum harus menghidupkan kembali nilai-nilai etis dan spiritual. Siswa perlu diajak berdialog tentang makna hidup, tanggung jawab sosial, dan keadilan.
3. Budaya Anti-Korupsi dan Anti-Narkoba Sejak Dini : Bukan hanya lewat slogan, tetapi lewat praktik transparansi di sekolah, pendidikan hukum dan kesadaran publik.
4. Integrasi IPTEK dan IMTAQ dalam Pembelajaran : Tidak boleh ada dikotomi. Fisika, biologi, ekonomi, bahkan matematika harus dikembalikan kepada orientasi nilai: untuk siapa dan untuk apa ilmu ini dipelajari?
Penutup
Pendidikan nasional bukan sekadar proyek pembangunan manusia, melainkan pertaruhan peradaban. Bila pendidikan hanya mencetak insan cerdas namun tak bermoral, maka bukan generasi emas yang akan lahir, melainkan generasi cemas yang bingung menentukan arah masa depannya.
Indonesia membutuhkan pendidikan berjiwa tauhid dan berwawasan kemajuan. Generasi emas hanya akan lahir dari sistem pendidikan yang memuliakan iman, menghargai ilmu, dan menjunjung akhlak.
Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb
