PERPECAHAN DI KALANGAN ANAK BANGSA DAN UMAT ISLAM SANGAT MENGKHAWATIRKAN

Oleh: Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD-PAB) MUI Pusat

“إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةࣱ فَأَصۡلِحُوا۟ بَیۡنَ أَخَوَیۡكُمۡۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ”

“Orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” [QS. Al-Hujurat: 10]

Fenomena Perpecahan yang Meningkat

Realitas sosial di tanah air menunjukkan kecenderungan meningkatnya ketegangan, konflik horizontal, dan polarisasi sosial, baik atas dasar agama, etnis, maupun politik. Penelitian The Wahid Foundation (2018) mencatat bahwa ada lebih dari 276 kasus intoleransi sepanjang tahun itu, dan jumlahnya terus meningkat seiring pemilu dan kontestasi kekuasaan yang memicu politisasi agama.

Laporan Setara Institute (2023) menyebutkan cedera kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) di Indonesia masih tinggi, dengan 161 peristiwa pelanggaran KBB sepanjang tahun, yang mayoritasnya terjadi pada komunitas Muslim itu sendiri, seperti pembubaran pengajian, pelarangan ceramah, dan kekerasan verbal antar kelompok.

Hal ini diperburuk dengan maraknya ujaran kebencian di media sosial, di mana laporan Kominfo RI (2022) menemukan lebih dari 1.500 konten hoaks dan provokatif bertema SARA tersebar luas setiap tahunnya. Polarisasi dan segregasi antar kelompok umat Islam (misalnya antara “nasionalis–Islamis”, “konservatif–progresif”, dan sebagainya) menjadi salah satu indikator lemahnya ukhuwah Islamiyah.

Potensi Disintegrasi dan Ancaman Strategis

Jika tidak ditangani secara serius dan sistematis, fenomena ini berpotensi membesar menjadi konflik sosial yang merusak keutuhan bangsa. Menurut kajian LIPI (2020), ketegangan identitas di Indonesia saat ini bukan hanya muncul dari perbedaan keyakinan, melainkan telah dimanfaatkan sebagai alat politik untuk merebut kekuasaan, sebuah fenomena yang disebut sebagai “political identity weaponization”.

Dalam perspektif keamanan nasional, fenomena ini membuka ruang proxy conflict yang menguntungkan kelompok luar yang ingin melemahkan bangsa Indonesia. Studi RAND Corporation menunjukkan bahwa salah satu strategi melemahkan negara-negara berkembang adalah melalui polarisasi internal dan eksploitasi konflik agama.

Kecurigaan Adanya Grand Design Perpecahan

Bukan sesuatu yang berlebihan bila ada kecurigaan terhadap grand design yang disengaja oleh kelompok berkepentingan, baik domestik maupun transnasional, untuk memecah-belah umat Islam Indonesia. Sebagaimana diungkap dalam buku “Disintegrasi Bangsa: Ancaman Global atas Kedaulatan Indonesia” (Yudi Latif, 2021), infiltrasi ideologis dan pemanfaatan kelemahan sosial umat Islam menjadi pintu masuk paling strategis bagi kekuatan luar untuk menguasai sumber daya dan arah politik bangsa.

Usulan Tindakan Strategis

Oleh karena itu, kami menyerukan kepada:

  1. Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum, untuk bertindak tegas terhadap segala bentuk ujaran kebencian, persekusi keagamaan, dan pelanggaran hukum berbasis SARA.
  2. Majelis Ulama Indonesia (MUI), untuk menggalang kekuatan ukhuwah Islamiyah dan menjadi mediator strategis dalam menyatukan berbagai elemen umat yang berselisih.
  3. Organisasi Kemasyarakatan dan Tokoh Umat, agar kembali kepada semangat ta’awun (tolong-menolong), tasaamuh (toleransi), dan islah (rekonsiliasi).
  4. Media dan Akademisi, untuk terus memberikan edukasi publik yang sehat, mendorong literasi digital dan memperkuat narasi persatuan.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Dan janganlah kamu saling bermusuhan, karena sesungguhnya permusuhan itu dapat menghapus kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” [HR. Abu Dawud, no. 4910]

Jika umat Islam tidak bersatu dan bangsa ini terus membiarkan benih-benih konflik merambat tanpa penanganan, maka kehancuran bukan lagi sebuah kemungkinan, tetapi keniscayaan. Na‘ūdzubillāhi min dzālik.

Referensi:

  • Wahid Foundation. (2018). Annual Report: Religious Intolerance in Indonesia.
  • Setara Institute. (2023). Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Laporan Tahunan.
  • Kominfo RI. (2022). Laporan Hoaks dan Ujaran Kebencian SARA.
  • LIPI. (2020). Identitas Politik dan Polarisasi Sosial di Indonesia.
  • RAND Corporation. (2021). Modern Conflict and the Strategy of Fragmentation.
  • Yudi Latif. (2021). Disintegrasi Bangsa: Ancaman Global atas Kedaulatan Indonesia.
  • Hadis riwayat Abu Dawud no. 4910 (hasan).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *